MENILIK PERAN ENGINEERING DALAM MEMAJUKAN PERADABAN ISLAM
Erika Putri Pradaniz/ I0521022/Teknik Kimia
Sejarah peradaban menunjukkan bahwa Islam pernah mengalami kemajuan dan kemunduran. Secara umum, peradaban Islam dibagi menjadi tiga periode, yaitu periode klasik (650 – 1250 M), periode pertengahan (1250 - 1800 M), dan periode modern (1800 – sekarang). Islam mengalami masa kejayaan pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah (650 – 1250 M). Kejayaan Islam ini ditandai dengan perkembangan yang pesat pada ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sosial, arsitektur, dan militer. Seperti adanya gerakan penerjemahan buku-buku sains, sastra, dan filsafat; lahirnya para filsuf muslim, seperti Ibnu Sina, Al Farabi, dan Al Ghazali; lahirnya pusat-pusat ilmu pengetahuan di Baghdad, Kairo, dan Cordova; serta berkembangnya ilmu-ilmu sains, sosial masyarakat, dan keagamaan. Namun, setelah kehancuran dan jatuhnya Baghdad di tangan Mongol pada sekitar tahun 1258 M, Islam mengalami kemunduran. Umat muslim menjadi fokus terhadap kehidupan religi daripada perkembangan ilmu pengetahuan.
Dari beberapa hal diatas, terlihat bahwa indikator kejayaan Islam yang paling utama adalah adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan. Islam merupakan agama yang sangat menekankan dan mengutamakan ilmu pengetahuan. Allah SWT telah menegaskan hal ini dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Seperti yang tertuang dalam salah satu hadits berikut, “Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, hendaklah ia menguasai ilmu,” (HR. Ahmad). Dari hadits tersebut, jelas terlihat bahwa kedudukan ilmu pengetahuan sangat penting dalam Islam, tidak hanya ilmu agama tapi juga ilmu dunia.
Adanya ilmu pengetahuan telah membawa peradaban Islam menjadi lebih berkembang dan maju. Bahkan banyak tokoh-tokoh muslim yang menjadi pelopor terciptanya suatu metode, ilmu, maupun alat yang berperan penting dalam kehidupan ini. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah Al Jazari (penemu konsep mesin robot modern), Abbas Ibnu Firnas (penemu konsep pesawat terbang), Ibnu al Haytham (penemu kamera), Hassan Al-Rammah (penemu roket), Taqiyuddin Asy-Syami (penemu teleskop), Jabir bin Hayyan (ilmuwan kimia), Ibnu Sina (tokoh kedokteran), Al-Khawarizmi (ilmuwan matematika), dan masih banyak lagi.
Sebagai kaum terpelajar, seorang mahasiswa memiliki peranan penting dalam memajukan peradaban Islam, khususnya di bidang ilmu pengetahuan. Sejarah membuktikan, kemajuan atau kemunduran suatu era, salah satunya diukur dari kontribusi generasi mudanya. Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda memiliki potensi yang kuat untuk memajukan peradaban dunia. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk memajukan peradaban Islam. Namun hal itu harus sejalan dengan konsep tauhid.
Sebagai mahasiswa, kontribusi nyata yang bisa dilakukan dalam memajukan peradaban Islam, bisa dimulai dari hal-hal yang berkaitan dengan bidang ilmu yang sesuai dengan program studi masing-masing. Untuk bidang teknik kimia secara spesifik, memang belum ada penemuan yang dilakukan oleh para ilmuwan muslim. Namun jika di bidang engineer, sudah banyak penemuan yang ditorehkan para ilmuwan muslim terdahulu. Yang paling terkenal pada masa itu adalah di bidang seni bangunan, banyak arsitektur muslim yang berperan penting dalam berdirinya bangunan-bangunan megah kala itu. Di antaranya ada Khalifah Al-Mansur di Baghdad dan Abdurrahman I di Cordoba. Selain itu, juga ada penemuan di bidang teknik mesin, yaitu alat pencuci tangan yang saat ini dikenal dengan wastafel, ditemukan oleh Al Jazari.
Meskipun belum ada ilmuwan muslim di bidang teknik kimia, namun ada banyak ilmuwan muslim di bidang ilmu yang berkaitan dengan teknik kimia. Dalam program studi teknik kimia memuat tiga ilmu utama, yaitu matematika, fisika, dan kimia. Beberapa contoh nyata peranan ilmuwan muslim dalam peradaban Islam di tiga bidang ilmu tersebut adalah :
1) Al-Khawarizmi
Seorang
tokoh di bidang matematika, astronomi, astrologi, geografi, dan kartologi.
Beliau merupakan penemu pertama konsep aljabar dan disebut sebagai Bapak
Aljabar. Buku pertamanya yang berjudul “Aljabar” membahas mengenai linier dan
notasi kuadrat. Konsep aljabar banyak digunakan dalam berbagai bidang ilmu, tak
terkecuali dalam teknik kimia. Pada program studi ini, konsep aljabar ditemukan
hampir seluruh mata kuliah, di antaranya mata kuliah kalkulus, persamaan
diferensial, dan pemodelan matematika.
2) Ibnu
al-Haytham
Beliau merupakan tokoh di bidang sains,
falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Beliau dikenal sebagai
sosok yang sangat produktif dalam menulis buku. Tak terkecuali buku di bidang
teknik (engineering). Salah satu penemuannya yang paling terkenal adalah
penemuan di bidang cahaya dan optik, terkhusus kamera. Fakta menarik adalah
beliau melakukan pengamatan tentang cahaya saat masih berada di dalam penjara.
Konsep yang telah ditemukannya tersebut, menjadi dasar perkembangan optik masa
sekarang. Oleh karena itu, Ibnu al-Haytham dijuluki sebagai Bapak Optik Modern.
3) Jabir
Ibnu Hayyan
Jabir Ibnu Hayyan merupakan seorang ahli
kimia, fisika, kedokteran, dan filsafat. Kontribusi terbesarnya adalah di
bidang kimia. Beberapa penemuan beliau di antaranya asam klorida, asam nitrat,
asam sitrat, asam asetat, teknik distilasi, dan teknik kristalisasi. Beliau juga menemukan
larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk
melarutkan emas. Beliau ilmuwan yang pertama kali mengaplikasikan penggunaan
mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca serta penemu
kelompok metal dan non-metal dalam penggolongan senyawa. Melihat banyaknya
penemuan beliau di bidang ini, tak ayal jika beliau dijuluki sebagai Bapak
Kimia.
4) Al-Razi
Merupakan
tokoh di bidang kimia. Beliau berhasil mengklasifikasikan zat alam menjadi
tiga, yaitu zat keduniawian, tumbuhan, dan binatang. Beliau juga menciptakan
soda dan oksida timah. Berkat Al-Razi pula industri
farmakologi muncul di dunia.
5)
Al-Majriti
Ilmuwan
muslim bidang kimia ini berhasil menemukan rumus dan tata cara pemurnian logam
serta membuktikan prinsip-prinsip kekekalan massa.
Melalui pemaparan di atas, dapat kita sadari bahwa ada begitu banyak penemuan-penemuan di bidang sains (matematika, fisika, kimia) yang menjadi dasar dalam pembelajaran teknik kimia, ditemukan oleh para ilmuwan muslim. Hal tersebut tentunya menumbuhkan rasa bangga dalam diri pribadi setiap kaum muslim. Namun faktanya banyak masyarakat sekarang yang tidak mengetahui tokoh-tokoh ilmuwan muslim tadi. Mereka menganggap penemuan-penemuan tadi dilakukan oleh bangsa barat. Padahal bangsa barat lah yang mengklaim penemuan-penemuan ilmuwan muslim tersebut. Hal ini mendorong Dr. Raghib As-Sirjani, seorang ilmuwan muslim asal Mesir, untuk mengungkap kembali masa kejayaan Islam tersebut. Beliau menulisnya dalam buku berjudul “Maadza Qaddamal Muslimuna lil Alam: Ishaamatul Muslimin fi Al-Hadharah Al-Insaniyah” (Apa Yang Telah Diberikan Umat Islam Untuk Dunia; Kontribusi Umat Islam Dalam Membangun Peradaban Manusia).
Melihat permasalahan tersebut, kita sebagai seorang muslim, tidak boleh membiarkan hal itu terus menerus terjadi. Kita sebagai mahasiswa harus melakukan upaya perubahan supaya kontribusi ilmuwan muslim dapat diketahui banyak pihak. Pun dari diri kita sendiri juga harus memberikan kontribusi nyata dalam memajukan peradaban Islam di era modern ini. Upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa, terkhusus mahasiswa teknik kimia dalam memajukan peradaban Islam di antaranya :
1) Menuntut ilmu dengan
sungguh-sungguh
Sebelum
memberikan kontribusi guna memajukan peradaban Islam, mahasiswa harus membekali
dirinya dengan ilmu terlebih dahulu, baik ilmu akademik maupun non akademik, ilmu
dunia maupun ilmu agama. Karena
sejatinya kemajuan ada jika kita mau memperbaiki kualitas kehidupan. Untuk
mahasiswa, terkhusus mahasiswa teknik kimia, bisa diawali dengan mendalami
ilmu-ilmu pada program studi ini dengan baik. Setelah itu, baru kita bisa
mengamalkan ilmu-ilmu tersebut dalam kehidupan, apalagi banyak hal di kehidupan
ini yang melibatkan proses kimia. Dengan kita memahami ilmu-ilmu tersebut,
secara tidak langsung kita berkontribusi dalam membantu mobilitas kehidupan.
Selain
itu, para mahasiswa juga harus belajar mengenai perkembangan IPTEK. Mengingat
masa sekarang yang serba modern, dunia tanpa batas. Menurut UNESCO, ada empat
pilar yang mendasari pendidikan di era globalisasi ini, yaitu learning
to think, learning to do, learning to be, dan
learning to live together. UNESCO menjadikan keempat
pilar tersebut sebagai soko guru bagi manusia menghadapi era globalisasi.
Namun di antara
semua itu, ilmu yang paling utama adalah ilmu agama. Ilmu-ilmu dunia yang kita
dapatkan tadi, harus diimbangi dengan ilmu agama. Mau secerdas apapun, jika
tidak dibekali iman yang kuat, kita akan terombang-ambing di dunia fana ini. Selain
untuk diri kita sendiri, Allah SWT sangat menganjurkan kita untuk menyampaikan ilmu
yang telah kita dapatkan kepada orang lain dan mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-sehari. Jika kita mampu menerapkan semua ilmu tersebut dengan baik,
niscaya kita dapat mengejar ketertinggalan umat muslim dan tentunya dapat
memajukan peradaban Islam di masa sekarang.
2) Mengembangkan potensi diri dengan mengikuti organisasi
atau volunteering
Selain urusan akademik, mahasiswa juga
harus mengembangkan diri dengan mengikuti organisasi atau volunteering,
baik yang di dalam kampus maupun di luar kampus. Dengan mengikuti organisasi
atau volunteering, softskill seperti jiwa kepemimpinan, kemampuan
public speaking, problem solving, manajerial waktu, dan
bersosialisasi akan semakin berkembang. Selain itu, kita akan lebih peka terhadap
lingkungan sekitar. Sekarang banyak organisasi yang memiliki program kerja
bidang sosial masyarakat, seperti kegiatan bakti sosial, pengabdian di desa, peduli
yatim dan dhuafa, aktivis hak asasi perempuan, dan lain sebagainya. Di mana
dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut bisa membantu permasalahan sosial di sekitar
kita, serta mengenalkan dan mengajarkan ilmu agama untuk diri kita sendiri dan
orang lain, yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas diri untuk memajukan
peradaban Islam.
3) Gemar melakukan penelitian
Engineering merupakan suatu ilmu yang akrab
dengan pengamatan atau penelitian. Istilah pengamatan dalam Al-Qur’an disebut
sebagai proses intizhar dan Islam sangat menganjurkan umatnya untuk
senantiasa melakukan intizhar. Seperti yang tertuang dalam Q.S. Yunus
ayat 101, yang artinya “Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit
dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul
yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".
Sebagai mahasiswa teknik kimia, tentunya
sudah familiar dengan penelitian. Sejak semester dua, seorang mahasiswa teknik
kimia sudah diasah jiwa-jiwa kepenelitiannya melalui praktikum DTK (Dasar
Teknik Kimia). Lalu di semester tiga ada PTK (Praktikum Teknik Kimia) dan
semester lima ada OTK (Operasi Teknik Kimia). Mengingat pentingnya penelitian
ini dan diperkuat dengan ayat Al-Qur’an tadi, maka kita sebagai mahasiswa
teknik kimia sudah sepatutnya menumbuhkembangkan semangat penelitian dalam diri
kita, bukan hanya penelitian di bidang akademik saja tetapi juga di luar
akademik. Dengan melakukan penelitian, kita bisa mengetahui fenomena-fenomena alam yang terjadi di sekitar
kita, yang nantinya bisa memunculkan suatu langkah untuk menyelesaikan problem
tersebut.
4) Menciptakan suatu inovasi di bidang
engineering
Bidang
ilmu teknik kimia memegang peranan penting dalam kehidupan. Proses pengolahan
kimia selalu kita jumpai dalam kehidupan ini, mulai dari hal paling sederhana
sampai yang rumit sekalipun. Contoh sederhananya di dalam dapur, semua proses
masak-memasak menggunakan prinsip kimia, seperti memasak air, melarutkan gula
dalam teh, pengolahan mie, dan lain sebagainya. Namun, proses atau instrumen
tersebut tidak bisa didapatkan secara instan. Yang ada sekarang merupakan hasil
dari pembaharuan yang dilakukan para ilmuwan. Contohnya saja kamera, suatu alat
optik hasil karya ilmuwan muslim. Tanpa kamera, tidak ada lagi memori masa
lampau yang bisa diabadikan, tidak mungkin ada fitur video dalam berkomunikasi.
Dapat dilihat bahwa engineering merupakan hal yang penting di dunia ini,
bisa dibayangkan betapa gelapnya dunia ini tanpa engineering. Untuk itu,
kita sebagai mahasiswa, terkhusus mahasiswa teknik kimia, diharapkan mampu
menciptakan suatu inovasi, dalam bentuk instrumen, produk, maupun metode yang
dapat memudahkan kita dalam beraktivitas.
5) Membangun industri kimia yang
bermanfaat dalam kehidupan
Seorang lulusan
teknik kimia, notabenenya disiapkan untuk menjadi seorang process engineer
di sektor industri. Pada masa kejayaan Islam, sudah terdapat berbagai industri
kimia yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Di antaranya industri keramik dan
gerabah, lem keju, minyak, kopi, gelas silika, kosmetik, sabun, hingga bubuk
mesiu. Untuk itu, kita sebagai mahasiswa teknik kimia diharapkan mampu
berkontribusi aktif dalam industri kimia yang telah ada atau bahkan menciptakan
lapangan industri sendiri. Sehingga bisa membantu ketersediaan bahan kehidupan
sehari-hari dan menambah pendapatan negara untuk bersaing di kancah global.
Di atas mungkin hanya beberapa contoh kontribusi saja, masih banyak hal-hal lain yang bisa dilakukan mahasiswa dalam memajukan peradaban Islam. Tapi tentunya dalam melakukan hal-hal tersebut, kita harus selalu berpegang teguh terhadap Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam. Sebagai mahasiswa teknik kimia, tentunya harus dapat menginternalisasikan Al-Qur’an dalam bidang teknik kimia. Bila kita kaji lebih dalam, ada banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai proses kimia. Seperti yang tertulis dalam Q.S. Al Kahfi ayat 96 yang artinya “Berilah aku potongan-potongan besi". Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)". Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu".
Ayat
di atas menyatakan bahwa Allah SWT mengatur hal-hal sedemikian rupa sampai besi
pun Allah SWT tundukkan untuk kepentingan umat manusia. Dalam teknik kimia,
proses pengolahan besi tersebut dibahas dengan sangat detail. Misalnya
bagaimana besi diperoleh dari batuan dan bijihnya sampai dapat digunakan dalam
produksi senyawa-senyawa kimia lain yang dibutuhkan.
Dari
penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejatinya Allah SWT telah mengatur
semua tentang kehidupan ini dalam Al-Qur’an, mulai dari hal kecil yang kita
anggap remeh sampai hal rumit sekalipun. Allah SWT telah memberikan dengan
jelas semua petunjuk-Nya di dalam Al-Qur’an. Tinggal bagaimana kita
menyikapinya. Kita bisa asalkan ada tekad kuat untuk membaca, memahami, dan
yang terpenting adalah mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
begitu, kebermanfaatannya bisa dirasakan oleh seluruh umat muslim dan dapat
membuka pikiran kita semua untuk lebih berkembang demi mengejar ketertinggalan
dan memajukan peradaban Islam di masa modern sekarang ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Kemas Mas’ud. (2016). Integritas Pendidikan Agama
Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan
Dan Teknologi. Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam. 2(1): 1-14.
Allailiyah, Nailil
Muna. (2020). Peran Sains dalam Membangun Kualitas Generasi Islam. Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains. 2(1): 321-329.
Maharani, Esthi. (2017). “Ilmuan Muslim Terbesar di
Bidang Teknik dan Mekanik”, https://www.republika.co.id/berita/oxn9er335/ilmuan-muslim-terbesar-dibidang-teknik-dan-mekanik. Diakses pada 18
Desember 2021.
Nasir, Muhammad. (2012). Mahasiswa Islam Dalam
Perspektif Pendidikan Global. Jurnal
Pendidikan Dinamika Ilmu. 12(1): 1-11.
Parlina, Iin. (2009). “Al Quran Dalam Dunia Teknik
Kimia atau Teknik Kimia Dalam Al Quran”, https://iinparlina.wordpress.com/2009/06/30/al-quran-dalam-dunia-teknik-kimia-atau-teknik-kimia-dalam-al-quran/.
Diakses pada 18 Desember 2021.
Replubika.co.id (2009, 20 Maret). Revolusi Kimia dalam Peradaban Islam. Diakses pada 18 Desember 2021, dari https://www.republika.co.id/berita/38907/revolusi-kimia-dalam-peradaban-islam.
Sarjito. (2020). Engineering dalam Peradaban Islam.
Surakarta: Muhammadiyah University
Press.
Suwarno.
(2019). Kejayaan Peradaban Islam Dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan. Jurnal Pemikiran Islam. 20(2): 165-175.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar